Fashion

Kreativitas Versus Bisnis! 5 Alasan Mengapa Raf Simons Dianggap Gagal Mengembangkan Calvin Klein

By THE SHONET Luxury  |   almost 2 years ago
Kreativitas Versus  Bisnis! 5 Alasan Mengapa Raf Simons Dianggap Gagal Mengembangkan Calvin Klein

Raf Simons dikabarkan akan segera mundur dari jabatannya sebagai Chief Creative Officer Calvin Klein, terkait menurunnya penjualan. Situs Women's Wear Daily (WWD) melaporkan pendapatan Calvin Klein pada kuartal ketiga tahun 2018 turun dari 142 juta Dolar menjadi 121 juta Dolar. Situasi semakin memanas ketika Emanuel Chirico, CEO dari PVH Group selaku pemilik label Calvin Klein memberikan analisis bahwa penyebabnya terdapat pada rancangan Raf Simons yang kurang komersial. Rumor berkembang bahwa terjadi perselisihan internal antara Raf Simons dengan manajemen hingga dikabarkan Raf Simons akan segera mundur dari posisinya.

Situasi yang dihadapi Raf Simons dan Calvin Klein terbilang klasik, yakni ketika kreativitas harus berhadapan dengan bisnis. Sebelum memasuki era 2000-an, desainer masih memegang kendali atas selera pasar. Namun setelahnya, konsumen semakin enggan didikte oleh fashion. Internet dan media sosial menjadi simbol kebebasan. Meski begitu, banyak desainer yang sukses mengawinkan kreativitas dan bisnis dengan tanpa mengorbankan satu sama lain, seperti Alessandro Michele di Gucci, serta Jonathan Anderson di Loewe. Lantas mengapa Raf Simons dengan resume yang impresif, pernah menjadi creative director Dior dan Jil Sander, justru seakan 'kewalahan' dalam mengembangkan Calvin Klein? Adakah Calvin Klein sebenarnya terlalu agresif? Berikut lima analisisnya.


1. Lini Calvin Klein 205W39NY yang kurang mendapat sambutan

Calvin Klein Spring/Summer 2019/IMAXtree

Ketika bergabung dengan Calvin Klein sebagai Chief Creative Officer, Raf Simons menghadirkan lini baru bernama Calvin Klein 205W39NY. Namanya terinspirasi dari alamat headquarter Calvin Klein. Label ini hadir dengan gaya artistik yang berlawanan dengan citra Calvin Klein yang dikenal dengan gaya minimalis. Raf Simons menghadirkan gaya yang lebih artsy dan feminin. Meski kerap mendapat pujian dari jurnalis, namun performa penjualan dari lini ini justru kurang memuaskan. Nampaknya visi artistik Raf Simons nampaknya belum bisa menggeser popularitas gaya streetwear saat ini.

2. Rancangan yang terlalu artistik untuk lini Calvin Klein Jeans

Koleksi perdana Calvin Klein Jeans dari Raf Simons/Calvin Klein

Sentuhan desain yang lebih artistik juga turut diterapkan pada lini Calvin Klein Jeans. Lebih dari sekadar jeans yang basic, di bawah arahan Raf Simons, kreasi jeans dari Calvin Jeans lebih bergaya kontemporer. Meski para pencinta fashion menyambut baik, namun desainnya justru kurang menarik atensi konsumen secara masif yang lebih menyukai gaya kasual.


3. Cakupan pasar Calvin Klein yang lebih luas

Raf Simons/IMAXtree

Raf Simons mungkin sukses mensupervisi Jil Sander dan Dior namun Calvin Klein berada dalam pasar yang berbeda dengan kedua label tersebut. Meski merupakan label fashion kenamaan, cakupan pasar Calvin Klein lebih luas dan komersial. Selain jeans, pendapatan terbesar Calvin Klein datang dari penjualan underwear dan parfum. Publik tentu lebih akrab dengan visi estetis yang lebih kasual dari Calvin Klein. Selanjutnya desain lini Calvin Klein Jeans akan kembali dibuat basic.

4. Waktu untuk adaptasi

Calvin Klein Fall/Winter 2018/IMAXtree

Ketika merekrut Raf Simons, PVH Group mentargetkan bahwa Calvin Klein akan meraup pendapatan hingga 10 Milyar Dolar Amerika. Namun, kunci kesuksesan desainer ketika menjadi creative director adalah salah satunya waktu untuk beradaptasi bagi dirinya dan konsumen. Strategi untuk mengubah garis desain Calvin Klein Jeans nampaknya memang kurang tepat karena publik membutuhkan kreasi basic items sekaligus menjaga pemasukan utama perusahaan.

Baca juga: Artikel fashion lainnya dari Rayoga Akbar Firdaus

5. Kreativitas versus bisnis

Calvin Klein Spring/Summer 2019/IMAXtree

Kesuksesan Alessandro Michele mengubah total citra Gucci, memancing penerapan strategi perubahan desain secara radikal, begitu juga Calvin Klein dengan Raf Simons. Sang desainer tentu memiliki hak untuk menerapkan ciri khas desainnya. Namun Raf juga perlu memiliki sensibilitas terhadap selera pasar. Adalah kerjasama dari desainer dan tim bisnis untuk mensukseskan koleksi. Karena industri fashion hidup dari bisnis dan kreativitas.



calvinklein
rafsimons
Written By
THE SHONET Luxury

Welcome to The Shonet Luxury! Kenali lebih dalam seputar luxury lifestyle dari mulai runway, trend, hingga travel update.

 

All Comments (0)

Related Posts

Insiders Program Challenge

Become The Shonet Insider!

Now anyone can become an insider, including you!