Shonet IT List

Viral KKN Di Desa Penari - Ringkasan Cerita Versi Widya untuk Yang Malas Baca

By Dessi Natalia  |   about 2 months ago
Viral KKN Di Desa Penari - Ringkasan Cerita Versi Widya untuk Yang Malas Baca

Hello Shonetopia, beberapa waktu ini, dunia maya lagi dihebohkan sama cerita lama yang diangkat kembali yaitu kisah KKN Di Desa Penari. KKN Di Desa Penari ini sendiri merupakan cerita horor nyata yang pernah terjadi bertahun-tahun silam lamanya dan diceritakan oleh akun @SimpleM81378523 berdasarkan hasil pengalaman dari salah seorang yang dikenal oleh penulis.

Cerita KKN di Desa Penari ini menceritakan tentang kisah yang terjadi pada mahasiswa perkuliahan di kampus wilayah Jawa Timur yang sedang melakukan KKN di sebuah desa terpencil yang terletak didalam hutan. Ada enam orang mahasiswa bernama Ayu, Bima, Widya, Anton, Wahyu dan Nur yang melakukan KKN ke Desa tersebut, dan kisah yang diceritakan oleh akun @SimpleM81378523, menceritakan kisahnya melalui dua narasumber berbeda (Widya dan Nur). Aku merangkum kisah ini hanya kepada inti-intinya saja untuk memudahkan bagi siapa saja yang ingin membaca.

 

Versi Widya

Widya adalah mahasiswi akhir Universitas yang terletak di wilayah Jawa Timur dan diwajibkan untuk melakukan tugas akhir yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). KKN ini sendiri biasanya dilakukan ke desa-desa. Salah seorang temannya yang bernama Ayu, menawarkan sebuah desa yang dimana kepala desa tersebut adalah teman dari Kakak Ayu, Ilham. Widya pun setuju dengan desa pilihan Ayu dan berangkat untuk melakukan KKN di desa tersebut bersama 4 orang teman mereka lainnya (Wahyu, Anton, Bima, dan Nur). Ceritanya, desa tempat mereka KKN ini berada didalam hutan dan untuk mencapainya dari jalanan besar memerlukan waktu 30 menit dan harus menggunakan motor karena jalanannya sulit untuk dilalui mobil.

 

Ketika sampai di depan hutan, penduduk desa menjemput rombongan ini di jalanan besar dengan menggunakan motor. Seluruh rombongan itu pun masing-masing menaiki motor tersebut, berboncengan dengan penduduk desa dan memulai perjalanan ke desanya. Ketika di perjalanan, Widya secara aneh mendengar adanya suara gamelan, padahal ia yakin bahwa bagian kanan kiri jalan yang mereka lalui adalah hutan belantara. Namun, disaat itu, Widya masih berpikir positif bahwa kemungkinan desa lain sedang mengadakan pesta. Widya mulai merasa semakin aneh ketika perjalanan yang ia lalui di hutan terasa sangat lama, padahal seperti yang disebutkan diawal cerita, lokasi desa tersebut hanya 30 menit dari jalan besar, namun Widya merasa sudah satu jam perjalanan dan belum kunjung sampai juga di desa.

 

Ketika tiba di desa, Widya pun dikenalkan oleh Ayu kepada Kepala Desa (Pak Prabu) yang merupakan teman Kakaknya, disinilah Widya bertanya tentang waktu tempuh desa dari jalanan besar yang ia rasa sangat jauh. Anehnya, Nur dan Ayu malah bingung dengan pernyataan Widya, dan mereka bilang bahwa waktu tempuhnya hanya 30 menit saja, bukan satu jam seperti yang dikatakan Widya. Kemudian Widya sempat menyebutkan adanya suara gamelan yang ia dengar ditengah hutan, dan Nur sempat mengiyakan apa yang dikatakan Widya tentang suara gamelan, yang lebih anehnya, Nur bahkan sempat melihat seorang penari di tengah hutan. Ayu pun menegaskan bahwa itu hanya halusinasi mereka dan menegaskan bahwa tidak terdapat desa lain disana, jadi tidak mungkin apabila yang dilihat oleh Widya dan Nur adalah pesta di desa lain. Dari kejadian itu, Ayu menegur Nur dan Widya supaya tidak berkata yang tidak-tidak tentang desa tersebut, dan akhirnya Nur dan Widya pun menyetujuinya. Penginapan Mahasiswa (Anton, Wahyu dan Bima) berlokasi di sebuah rumah gubuk yang dulunya posyandu, sedangkan Mahasiswi (Ayu, Nur dan Widya) menginap di rumah salah satu warga. Malam pertama pun berlalu begitu saja dan esok harinya mereka semua berkumpul.

 

Hari pertama ini adalah waktunya seluruh mahasiswa/i diajak berkeliling desa oleh Pak Prabu. Yang aneh dari ketika keliling desa adalah pemakaman yang setiap batu nisannya ditutup oleh kain hitam, dan Pak Prabu menjelaskan bahwa itu adalah salah satu budaya di desa tersebut. Tempat berikutnya yang dikunjungi adalah Sinden (kolam, tempat air kelur dari tanah) yang disebut-sebut oleh Pak Prabu sebagai salah satu Proker yang menjanjikan. Selanjutnya adalah "Tipak Talas", batas dimana mereka tidak diperbolehkan melintasi perbatasan ke jalan setapak yang kanan dan kirinya ditutupi dengan kain merah. Widya disini merasakan keganjilan dikarenakan melihat disetiap jalanan desa, banyak banget sesajen yang diletakkan. Pak Prabu menyebutkan bahwa dibagian selatan Sinden terdapat bilik yang didalamnya ada kendi air besar dan bisa digunakan untuk mandi. (Ceritanya desa ini sulit akses air, jadi nggak ada kamar mandi di setiap rumah)

 

Hari sore menjelang malam, semua mahasiswa kembali ke penginapan masing-masing. Kemudian, Widya mengajak Nur untuk mandi, meskipun pada awalnya Nur menolak, namun akhirnya mereka berangkat untuk mandi. Nur mandi duluan dan Widya menunggu diluar. Ketika melihat kondisi sekitar, Widya mulai merasa perasaannya tidak enak, terdapat sesajen dan ada bau kemenyan dibakar, dan lagi Widya mendengar adanya kidung jawa yang dinyanyikan dari dalam bilik. Ia menggedor pintu bilik namun tidak ada jawaban, sampai akhirnya Nur membuka pintu bilik dengan ekspresi bingung. Gantian Widya yang mandi dan ia menyadari bahwa ia tidak sendirian di bilik itu. Setiap air disiram menyentuh wajahnya dan ia menutup matanya, Widya bisa melihat samar-samar adanya bayangan wanita cantik dipikirannya. Ia juga mendengar lagi suara kidung jawa itu dari luar bilik dan meyakini bahwa itu adalah Nur. Saat perjalanan kembali ke penginapan, Widya bertanya pada Nur apakah ia bisa berkidung jawa, dan Nur hanya diam tidak menanggapi Widya.

 

Ketika malam tiba, Widya melihat bayangan Nur melangkahkan kakinya keluar dan Widya mengikutinya. Widya mendapati Nur tiba-tiba menari ditengah kegelapan malam. Widya menghampirinya dan berteriak memanggil-manggil Nur dan tiba-tiba pandangan Nur berubah hitam dengan mata yang tajam. Sontak membuat Widya berteriak histeris. Kali berikutnya Widya merasa ada yang menggoyang-goyangkan dirinya dan ternyata itu adalah Wahyu. Wahyu menegur Widya karena menari sendirian. Teriakan histeris Widya membangunkan seluruh isi rumah termasuk warga yang tinggal dirumah itu. Wahyu pun bercerita kepada warga bahwa ia hanya ingin merokok sebentar dan melihat Widya menari sendirian ditengah malam. Warga pun menceritakan kejadian itu kepada Pak Prabu. Esokannya, Pak Prabu meminta Widya, Ayu dan Wahyu untuk ikut pergi bersamanya kerumah seseorang tetua disana yang bernama Mbah Buyut. Mbah Buyut menyambut mereka dan menyajikan kopi. Widya pun mencicipi kopi tersebut dan merasa kopinya amat manis dan ada aroma melati didalamnya. Anehnya, Wahyu dan Ayu yang mencoba kopi itu merasa kopinya sangat pahit dan tidak bisa diminum sama sekali.

 

Saat akan pulang, Mbah Buyut memberi kunir di dahi Widya yang dimaksudkan untuk melindunginya. Saat diperjalanan, Pak Prabu menyebutkan bahwa kopi yang disajikan adalah kopi untuk Lelembut, Demit dan sejenisnya. Sehingga jika orang biasa yang mencicipinya akan merasa sangat pahit dan tidak enak. Ayu dan Wahyu kebingungan sambil memandang Widya. Pak Prabu menegaskan bahwa ada yang mengikuti Widya dan Widya tidak boleh ditinggalkan sendirian. Mulai hari itu, Mahasiswa Pria dan Wanita dibiarkan tinggal dalam satu rumah, hanya terpisah oleh bilik saja. Pak Prabu meminta agar mereka tidak melanggar etika dan norma.

 

Kejadian aneh lainnya yang dialami Widya adalah ketika Nur sedang minum air dari teko, kemudian memberikannya pada Widya. Anehnya Widya tiba-tiba merogoh tenggorokannya dan menemukan 1-2 helai rambut hitam panjang. Saat dilihat, didalam teko air tersebut ada segumpal rambut hitam panjang.

 

Kejadian yang tidak terlupakan lainnya, ketika Wahyu mengajak Widya ke kota untuk membeli perlengkapan KKN mereka. Widya dan Wahyu terpaksa harus pulang petang hari dan melewati jalanan hutan ditengah gelapnya malam. Tiba-tiba mereka harus menghadapi kejadian motor yang mogok dan bertemu dengan seorang kakek ditengah hutan yang tiba-tiba menawarkan bantuan. Anehnya, disaat itu pula sedang ada pesta besar, Widya dan Wahyu pun mengikuti pesta tanpa curiga sembari menunggu motor mereka diperbaiki oleh sang kakek. Bahkan ketika ingin kembali ke desa, sang kakek membekali mereka dengan banyak makanan dari pesta tersebut. Widya dan Wahyu dibuat kaget ketika sampai didesa dan membuka bungkusan yang diberikan sang kakek di hutan tadi. Ternyata berisi kepala monyet dengan darah segar yang masih menetes.

 

Suatu hari, klimaks dari kejadian ini pun tiba. Widya diperingatkan oleh "penjaga" Nur bahwa temannya tidak akan bisa kembali karena sudah melakukan perbuatan nakal. Widya pun menaruh curiga kepada Bima. Bima memang satu-satunya yang tidak terlalu akrab dengan setiap orang-orang yang ada di KKN ini dan Wahyu sempat bercerita bahwa Bima seringkali keluar sendiri malam-malam. Disaat itu, Widya memergoki Bima keluar malam hari sendirian dan mengikutinya. Bima disebut-sebut sebagai anak yang Religius, namun Anton pernah sekali bercerita bahwa ia memergoki Bima Onani dan seringkali terdengar suara wanita dari kamarnya.

 

Ketika Widya mengikuti Bima, Widya kaget karena Bima menuju Tipak Talas, wilayah yang dianggap dilarang oleh Pak Prabu. Namun, untuk mengetahui apa yang dilakukan Bima, Widya pun nekat melewati Tipak Talas tersebut. Diujung Tipak Talas, Widya menemukan sebuah sanggar tua yang pernah diceritakan oleh Ayu. Sanggarnya benar-benar berantakan, bangunannya disokong oleh 4 buah pilar kayu jati dengan lantai panggung. Dari sana terdengar suara gamelan yang jelas sekali, dan saat Widya berjalan mendekat, Widya merasa bahwa ia tidak sendirian. Widya merasa tempat itu sangat penuh sesak, namun tidak ada siapapun disana. Tepat ketika Widya berjalan menginjak anak tangga pertama, suara gamelan tersebut berhenti dan seketika hening seperti tidak menerima Widya disana. Widya mengacuhkan keheningan itu dan tiba-tiba mendengar suara tangisan yang dikenalnya yang ternyata adalah Ayu.

 

Widya melihat dari jauh bahwa di sanggar tersebut ada sebuah gubuk berpintu. Widya mengelilingi gubuk itu berusaha mengintip kedalamnya. Terdengar suara Bima dan suara perempuan yang sedang mendesah dari dalam gubuk. Widya yang menemukan celah kecil untuk mengintip, kaget bukan main dilihatnya Bima sedang berendam di Sinden dan dikelilingi ular besar. Bima menatap lurus ketempat Widya seakan menyadari adanya tamu tidak diundang. Widya berbalik pergi dan lari, namun tiba-tiba tempat yang tadinya kosong menjadi penuh sesak dengan orang-orang yang mengerikan. Dari yang melotot memandang Widya, wajahnya hanya separuh, sampai yang tidak punya wajah. Widya mulai menangis, dan melihat didepannya ada yang sedang menari, tariannya membuat semua yang disana melihatnya. Widya menyadari yang menari adalah Ayu. Widya melihat Ayu yang menangis dengan mata sembab namun mengekspresikan untuk Widya supaya lari dari sana. Widya pun segera berbalik dan lari.

 

Sampai dijalan setapak, Widya melihat seekor anjing hitam menggonggong. Anjing tersebut lari begitu melihat Widya, dan Widya mengikutinya.Widya pun keluar dari jalan setapak dan kemudian ternyata hari sudah subuh. Tiba-tiba ada warga desa yang berlari dan berteriak bahwa Widya sudah ditemukan seakan Widya sudah hilang lama sekali. Widya dibawa ke penginapan dimana sudah banyak sekali orang berkumpul disana. Nur menghampiri Widya, memeluknya sambil mengatakan bahwa Ayu terbujur kaku. Widya melihat dua orang teman mereka, Ayu dan Bima yang terbaring. Ayu terbujur kaku dengan mata terbuka, sedangkan Bima terbaring dengan kondisi kejang.

 

Mbah Buyut menjelaskan kepada Widya bahwa Sinden yang ada di desa adalah Sinden kembar. Dimana yang satu adalah letaknya didesa yang dekat bilik mereka mandi, dan satunya adalah dimana Widya melihat Bima berendam dengan ular. Mbah Buyut mengatakan bahwa Bima dan Ayu telah melakukan hal tidak senonoh di sinden yang tidak boleh didatangi tersebut, sehingga sekarang mereka berdua harus membayarnya dengan roh-nya yang diharuskan menebus kesalahannya.

 

Ayu dihukum menggantikan Badarawuhi (Penunggu disana) untuk menari, dan Bima dharuskan untuk "mengawini" Badarawuhi yang berwujud ular. Akhirnya kejadian ini pun dilaporkan ke pihak panitia KKN dan keluarga korban (Ayu dan Bima). Sebenarnya Mbah Buyut mengatakan jika Ayu dan Bima tidak dibawa raganya, ia ingin berusaha bernego dengan Badarawuhi. Namun sayangnya, keluarga Ayu dan Bima tidak bisa menerimanya dan membawa raga mereka pulang. Ayu hanya bisa terbujur kaku dengan mata yang terus terbuka, sedangkan Bima masih kejang-kejang tidak berhenti. Sesekali katanya Ayu sempat meneteskan air mata sampai akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya 3 bulan setelah kejadian. Sama halnya dengan Bima yang meninggal lebih dulu dari Ayu dan sebelumnya berteriak "Ular, ular, ular".

 

So guys, jadi itu cerita artikel kali ini. Saya sedikit memotong bagian-bagian yang dirasa kurang penting dan langsung mengarah ke intinya saja. Sebenarnya masih ada yang versi Nur, namun tidak saya ceritakan supaya tidak terlalu panjang.

 

Sekian artikel kali ini. Selamat membaca!!

KKNDiDesaPenari
DesaPenari
KKN
KKNJawaTimur
DesaPenariKKN
KisahKKNdiDesaPenari
AyudanBimaKKN
WidyaKKNDesaPenari
KisahKKNDiDesaPenariversiWidya
Written By
Dessi Natalia

A part time blogger who writes about the things that she loves.

All Comments (9)
View all 9 comments
Asrianty Azzahra seruu bgt emang ini ceritanya!!
about 2 months agoReply
Septiani
wadidawww
about 2 months agoReply
Shafira Rizka Putri masih rame yaaa
about 2 months agoReply

Related Article

The Shonet LookbookEmpowerment

Della Dartyan